| Antara Urusan Dunia dan Akhirat |
|
|
|
| Written by administrator | |
| Friday, 28 March 2008 | |
Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan urusan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, dimana Allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan), adalah termasuk dalam (bisikan) syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu utuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari himmah (tekad spiritual) yang luhur
Penjelasan Syaikh Ibn 'Atha'illah mengajak untuk memperhatikan bahwa kecenderungan semacam ini (tajrid) kadang muncul akibat pengaruh hawa nafsu, bukan karena pengaruh rasa cinta yang tulus terhadap akhirat. Bagi mereka yang melangkahkan kaki di jalan Allah, yang dalam hatinya terbersit keinginan untuk meninggalkan asbab dan aktivitas duniawi karena dorongan cintanya kepada Allah, maka Syaikh berpesan agar mereka itu memperhatikan adab dalam beramal. Yaitu, apabila Allah ta'ala meletakkan kita pada asbab, maka tetaplah berpijak atasnya. Dan jika ketetapan itu tidak sesuai dengan keinginan kita, maka tetaplah atasnya. Sebab, Allah kadang menahan asbab itu dari kita, sebagaimana tergambar dalam firmanNya berikut ini, "Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi." (Al-Baqarah: 144) |
| < Prev | Next > |
|---|












Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan urusan duniawi, termasuk mencari rezeki) padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, dimana Allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan), adalah termasuk dalam (bisikan) syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu utuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah suatu kemerosotan dari himmah (tekad spiritual) yang luhur